Bank Syariah Indonesia

Icon

Mari belajar perbankan syariah

Tafsir Al Baqarah Ayat 276

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

[2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah(1). Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa(2).

Catatan Kaki:

  1. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.
  2. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.

Keberkahan harta yang hilang disebabkan oleh riba. Simak penjelasannya berikut ini.
Allah memberitahukan kepada manusia bahwa Dia menghapuskan dan melenyapkan riba dari pelakunya, baik secara total maupun Dia menghilangkan keberkahan hartanya sehingga tidak bermanfaat, bahkan dia memandangnya tidak ada. Pada hari kiamat pun Dia akan menyiksanya. Allah juga berfirman, “Dan sesuatu riba itu tidak adakan menambah pada sisi Allah” (Ar-Rum: 39) (akan dibahas lebih lanjut pada lain waktu).

Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya mesipun riba itu pada mulanya banyak, namun akhirnya ia menjadi sedikit“. Maksud dari kalimat “Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa” adalah dengan rasa tidak puasnya dengan harta halal yang telah diberikan Allah, lalu ia berusaha untuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak baik dan melalui usaha yang jahat. Dengan demikian, berarti ia berusaha untuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya, sehingga hilanglah keberkahan dari harta yang ia miliki.

Mengenai berkah atas harta, dapat kita lihat pada hadist berikut, yaitu “Siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka akan dipahamkan-Nya dengan kepemahaman yang dalam tentang agama.” Dan saya juga mendengar Rasulullah saw bersabda, “Aku ini adalah seorang bendahara. Maka siapa yang kuberi sedekah dan diterimanya dengan hati yang bersih, maka dia akan beroleh berkah dari harta itu. Tetapi siapa yang kuberi karena meminta-minta dan rakus, maka dia seperti orang yang makan yang tak pernah kenyang.” (Shahih Muslim: 1719). Berkah yang dimaksud adalah terkait dengan rasa syukur atau cukup atas nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya dan menerima ketetapan Allah sehingga semakin tumbuh rasa kedekatan dengan Allah. Hilangnya keberkahan akan mengakibatkan manusia tidak merasa cukup dengan nikmat dari Allah sebagai perwujudan rasa tidak bersyukur dan menginginkan atau meminta-minta nikmat yang belum ditetapkan oleh Allah untuk ia dapatkan dengan rakus seakan-akan tidak ada rasa puas di mana hawa nafsu diperturutkan dan semakin jauh dari Allah.

Wallahu A’lam

Referensi:

  • Muhammad Nasib Ar-rifa’i, Kemudahan Dari Allah – Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Gema Insani, 1999
  • Shahih Muslim – Lidwa
About these ads

Filed under: Dasar Hukum, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: